DOEN (DAFTAR OBAT ESENSIAL NASIONAL)
PENDAHULUAN
Konsep Obat Esensial di Indonesia mulai diperkenalkan dengan dikeluarkannya Daftar Obat Esensial (DOEN) yang pertama yaitu tahun 1980, dan dengan terbitnya Kebijakan Obat Nasional tahun 1983, yang merupakan penerapan konsep pemilihan obat
Daftar obat esensial merupakan daftar berisikan obat terpilih yang paling dibutuhkan dan diupayakan tersedia di unit pelayanan kesehatan sesuai dengan fungsi dan tingkatannya.
Kriteria Obat Esensial Nasional:
1. Memiliki rasio manfaat-resiko yang paling menguntungkan penderita
2. Mutu terjamin
3. Praktis dalam penyimpanan dan pengangkutan
4. Praktis dalam penggunaan dan penyerahan
5. Menguntungkan dalam hal kepatuhan dan
penerimaan oleh penderita
6. Memiliki rasio manfaat-rasio yang tertinggi yangberdasarkan biaya langsung dan tidak langsung
Tujuan Penerapan Obat Esensial Nasional :
Untuk meningkatkan, ketepatan, keamanan, kerasionalan penggunaan dan pengolahan obat yang sekaligus menigkatkan daya guna dan hasil guna biaya yang tersedia sebagai salah satu langkah untuk memperluas, memeratakan dan meningkatkan mutu.
Kepanitiaan :
Struktur organisasi KomNas DOEN terdiri dari :
1. Tim ahli
2. Konsultan
3. Pengelola program
4. Sekretariat pelaksana
Cara Revisi KomNas DOEN :
1. Pengusulan
2. Kompilasi Usulan
3. Materi Revisi
4 Kriteria Pembahasan
5. Cara Pembahasan Revisi
KESIMPULAN
Daftar Obat Esensial direvisi oleh komNas DOEN secara periodik tiap 3 tahun
sambil belajar menggunakan obat dengan benar agar terhidar dari penyalahgunaan dan penggunasalahan obat
Senin, 21 Februari 2011
PERBEKALAN KESEHATAN
SISTIM DISTRIBUSI OBAT PASIEN RAWAT INAP
DEFENISI : Sistim Distribusi Obat di rumah sakit merupakan rangkaian kegiatan pelayanan farmasi, meliputi :
Mulai dari diterimanya resep atau instruksi pemberian obat
Penyiapan obat dan
Menyalurkannya ke area perawatan.
TUJUAN SISTIM DISTRIBUSI OBAT
Pemberian obat yang tepat dan benar untuk setiap pasien.
Dosis dan jumlah obat yang diberikan sesuai resep.
Obat diberikan dalam kemasan yang dapat menjamin potensi setiap obat terjaga stabil.
Setiap obat dilengkapi informasi yang jelas.
ORGANISASI INSTALASI FARMASI RUMAH SAKIT (IFRS)
Management (Manager)
Proffesional Staff (Staf Profesional)
Support Staff (Staf Pendukung)
1. Management
Terdiri dari beberapa orang Apoteker Penanggung Jawab dan adakalanya bersama Apoteker Pendamping. Mereka sebagai Manager bertanggung jawab penuh terhadap :
Pengadaan.
Distribusi.
Mengontrol semua obat yang digunakan dalam institusi rumah sakit.
Mengatur aktivitas setiap personil yang ada dalam unit IFRS.
2. Proffesional Staff (Staf Profesional)
Terdiri dari beberapa orang Apoteker sebagai Supervisor, mereka bertanggung jawab terhadap :
Pengadaan.
Distribusi.
Mengontrol semua obat yang digunakan dalam institusi rumah sakit.
Supervisi terhadap Support Staff dalam melakukan semua aktivitas tanggung jawab didalam unit IFRS.
3. Support Staff (Staf Pendukung)
Personil ini seringkali terdiri dari Asisten Farmasi dan Analis Farmasi yang terlatih, dibantu oleh tenaga tehnis yang telah dididik.
I. Berdasarkan Ada Tidaknya Satelit Farmasi
Dibagi 2 kategori :
Sistim Sentralisasi :
Semua kebutuhan pasien disuplai secara sentral oleh IFRS pusat ke semua area perawatan pasien.
Sistim Desentralisasi :
Semua kebutuhan pasien disuplai dari depo (cabang IFRS) yang berada disekitar area perawatan pasien. Depo IFRS tersebar di beberapa lokasi di rumah sakit.
II. Berdasarkan Jenis Distribusi (Sistim Secara Umum)
Bulk Ward Stock (Persediaan Lengkap di Ruang Perawatan)
Individual Drug Order (Sistim Resep Individu)
Unit Dose (Unit Dosis)
Kombinasi dari 1, 2, 3
Faktor Bulk Ward Stock Individual Drug Order Unit Dose
Biaya obat dan distribusi
Biaya personil Apoteker
Biaya personil perawat
Resiko obat hilang
Resiko salah obat
Rendah Medium-Rendah Tinggi
Rendah Medium Tinggi
Medium-Rendah Rendah Rendah
Tinggi (jadi tinggi) Medium Rendah
Tinggi (jadi tinggi) Medium-Low Rendah
III. Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 1197/Menkes/SK/2004
Efisiensi dan efektifitas sumber daya yang ada.
Metode distribusi:
Sentralisasi
Desentralisasi.
Sistim distribusi:
Flor Stock (Persediaan Lengkap Ruangan)
Resep Individu
Dosis Unit atau
Kombinasi.
Keuntungan & Kelemahan Ward Stock/ Floor Stock
1.1. Keuntungan Ward Stock:
Jarak waktu antara penulisan resep & penyiapan obat dapat diperpendek. Hal ini akan menguntungkan pada situasi tertentu seperti :
Pada unit emergensi atau ruang operasi, obat biasanya dibutuhkan pasien segera setelah dokter menuliskan resep.
Pada situasi pasien yang kritis, obat-obatan dibutuhkan disimpan sekitar area pasien dirawat, karena seringkali hanya tersedia waktu sangat singkat untuk membantu penyelamatan pasien.
Untuk volume obat yang tinggi dan harga obat yang rendah, dapat didistribusikan dengan sistim ini bila resiko “medication error” rendah.
1.2.Kelemahan Ward Stock :
Resiko terjadi “medication error” tinggi, karena kontrol oleh instalasi farmasi terbatas.
Resiko terjadi obat hilang tinggi.
“Cost” personil perawat meningkat.
Perawat punya lebih sedikit waktu untuk merawat pasien.
2. Individual Drug Order (Resep Individu)
Pendistribusian obat/ perbekalan farmasi berdasarkan resep yang diberikan untuk setiap pasien.
Pelayanan dilakukan melalui IFRS pusat atau IFRS cabang (depo/ satelit farmasi/ apotik satelit).
Keuntungan & Kelemahan Sistim Resep Individu
2.1. Keuntungan Sistim Resep Individu:
Obat disediakan sesuai resep yang ditulis untuk setiap pasien.
Tingkat ketelitian lebih tinggi, resiko “medication error” lebih rendah.
Apoteker dapat mengevaluasi kelayakan terapi.
Pola pengobatan setiap pasien dapat dijaga.
Apotik menagih biaya obat pada pasien lebih mudah.
Interval waktu penyediaan obat dapat dibatasi (diatur) ---> Bila obat dibutuhkan untuk konsumsi 6 hari, awalnya dapat diberikan untuk konsumsi 3hari. Setelah 3 hari pasien dapat kembali mengambil sisa untuk 3 hari berikutnya.
Kontrol terhadap inventory obat lebih teliti.
2.2. Kelemahan Sistim Resep Individu :
Aktifitas IFRS meningkat, dibutuhkan lebih banyak personil farmasi.
Seringkali obat yang telah dibayar, hanya sebahagian yang dikonsumsi pasien (tidak diberikan hingga habis).
Berpotensi terjadi pemborosan biaya obat bagi pasien.
Resiko terjadi pencurian (penghilangan) obat meningkat.
3. Unit Dose (Unit Dosis)
Pendistribusian melalui resep perseorangan, diberikan/ digunakan dan dibayar dalam unit dosis tunggal atau ganda, dikemas untuk satu kali pemakaian yang siap dikonsumsi.
Diberikan maksimal untuk kebutuhan 24 jam.
Disimpan dalam laci terpisah untuk setiap pasien.
Pelayanan dilakukan oleh satelit/ depo farmasi.
Keuntungan & Kelemahan Sistim Unit Dosis
3.1. Keuntungan :
Bagi Pasien :
Pasien hanya membayar obat yang dikonsumsi ----> menghemat biaya obat.
Menciptakan pengawasan ganda oleh farmasi juga perawat.
Bagi Perawat :
Punya lebih banyak waktu untuk merawat pasien.
Bagi Rumah Sakit :
Mengurangi resiko kehilangan obat
Kontrol terhadap sirkulasi obat lebih baik
Membantu pasien untuk efisiensi biaya obat.
Bagi Farmasi:
Inventori kontrol lebih baik (lebih efisien)
Mengurangi masalah obat retur.
3.2. Kelemahan Sistim Unit Dose :
Butuh lebih banyak tenaga farmasi untuk pelaksanaannya (biaya personil Apoteker jadi lebih tinggi).
Biaya distribusi obat jadi lebih tinggi.
Contoh Pemberian Obat Sistim Unit Dosis
Bila Resep :
Obat A , 2x1
Obat B, 3x1
Obat C, 4x1
Maka unit dosis satu kali konsumsi untuk pemakaian selama 24 jam:
Siang : B + C
Sore : A + B + C
Malam : C
Pagi : A + B + C
REFFERENSI
Depkes RI, “Keputusan Menteri Kesehatan No. 1197/MENKES/SK/X/2004 tentang Standar Pelayanan Farmasi di Rumah Sakit”, Jakarta, Depkes RI, 2004.
King Robert E., “Dispensing of Medication”, Mack Publishing Co., 1984.
Managemen Sciences for Heath MSH, “Managing Drug Supply”, 2nd Ed, Kumarian Press, USA, 1997.
SISTIM DISTRIBUSI OBAT PASIEN RAWAT INAP
DEFENISI : Sistim Distribusi Obat di rumah sakit merupakan rangkaian kegiatan pelayanan farmasi, meliputi :
Mulai dari diterimanya resep atau instruksi pemberian obat
Penyiapan obat dan
Menyalurkannya ke area perawatan.
TUJUAN SISTIM DISTRIBUSI OBAT
Pemberian obat yang tepat dan benar untuk setiap pasien.
Dosis dan jumlah obat yang diberikan sesuai resep.
Obat diberikan dalam kemasan yang dapat menjamin potensi setiap obat terjaga stabil.
Setiap obat dilengkapi informasi yang jelas.
ORGANISASI INSTALASI FARMASI RUMAH SAKIT (IFRS)
Management (Manager)
Proffesional Staff (Staf Profesional)
Support Staff (Staf Pendukung)
1. Management
Terdiri dari beberapa orang Apoteker Penanggung Jawab dan adakalanya bersama Apoteker Pendamping. Mereka sebagai Manager bertanggung jawab penuh terhadap :
Pengadaan.
Distribusi.
Mengontrol semua obat yang digunakan dalam institusi rumah sakit.
Mengatur aktivitas setiap personil yang ada dalam unit IFRS.
2. Proffesional Staff (Staf Profesional)
Terdiri dari beberapa orang Apoteker sebagai Supervisor, mereka bertanggung jawab terhadap :
Pengadaan.
Distribusi.
Mengontrol semua obat yang digunakan dalam institusi rumah sakit.
Supervisi terhadap Support Staff dalam melakukan semua aktivitas tanggung jawab didalam unit IFRS.
3. Support Staff (Staf Pendukung)
Personil ini seringkali terdiri dari Asisten Farmasi dan Analis Farmasi yang terlatih, dibantu oleh tenaga tehnis yang telah dididik.
I. Berdasarkan Ada Tidaknya Satelit Farmasi
Dibagi 2 kategori :
Sistim Sentralisasi :
Semua kebutuhan pasien disuplai secara sentral oleh IFRS pusat ke semua area perawatan pasien.
Sistim Desentralisasi :
Semua kebutuhan pasien disuplai dari depo (cabang IFRS) yang berada disekitar area perawatan pasien. Depo IFRS tersebar di beberapa lokasi di rumah sakit.
II. Berdasarkan Jenis Distribusi (Sistim Secara Umum)
Bulk Ward Stock (Persediaan Lengkap di Ruang Perawatan)
Individual Drug Order (Sistim Resep Individu)
Unit Dose (Unit Dosis)
Kombinasi dari 1, 2, 3
Faktor Bulk Ward Stock Individual Drug Order Unit Dose
Biaya obat dan distribusi
Biaya personil Apoteker
Biaya personil perawat
Resiko obat hilang
Resiko salah obat
Rendah Medium-Rendah Tinggi
Rendah Medium Tinggi
Medium-Rendah Rendah Rendah
Tinggi (jadi tinggi) Medium Rendah
Tinggi (jadi tinggi) Medium-Low Rendah
III. Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 1197/Menkes/SK/2004
Efisiensi dan efektifitas sumber daya yang ada.
Metode distribusi:
Sentralisasi
Desentralisasi.
Sistim distribusi:
Flor Stock (Persediaan Lengkap Ruangan)
Resep Individu
Dosis Unit atau
Kombinasi.
Keuntungan & Kelemahan Ward Stock/ Floor Stock
1.1. Keuntungan Ward Stock:
Jarak waktu antara penulisan resep & penyiapan obat dapat diperpendek. Hal ini akan menguntungkan pada situasi tertentu seperti :
Pada unit emergensi atau ruang operasi, obat biasanya dibutuhkan pasien segera setelah dokter menuliskan resep.
Pada situasi pasien yang kritis, obat-obatan dibutuhkan disimpan sekitar area pasien dirawat, karena seringkali hanya tersedia waktu sangat singkat untuk membantu penyelamatan pasien.
Untuk volume obat yang tinggi dan harga obat yang rendah, dapat didistribusikan dengan sistim ini bila resiko “medication error” rendah.
1.2.Kelemahan Ward Stock :
Resiko terjadi “medication error” tinggi, karena kontrol oleh instalasi farmasi terbatas.
Resiko terjadi obat hilang tinggi.
“Cost” personil perawat meningkat.
Perawat punya lebih sedikit waktu untuk merawat pasien.
2. Individual Drug Order (Resep Individu)
Pendistribusian obat/ perbekalan farmasi berdasarkan resep yang diberikan untuk setiap pasien.
Pelayanan dilakukan melalui IFRS pusat atau IFRS cabang (depo/ satelit farmasi/ apotik satelit).
Keuntungan & Kelemahan Sistim Resep Individu
2.1. Keuntungan Sistim Resep Individu:
Obat disediakan sesuai resep yang ditulis untuk setiap pasien.
Tingkat ketelitian lebih tinggi, resiko “medication error” lebih rendah.
Apoteker dapat mengevaluasi kelayakan terapi.
Pola pengobatan setiap pasien dapat dijaga.
Apotik menagih biaya obat pada pasien lebih mudah.
Interval waktu penyediaan obat dapat dibatasi (diatur) ---> Bila obat dibutuhkan untuk konsumsi 6 hari, awalnya dapat diberikan untuk konsumsi 3hari. Setelah 3 hari pasien dapat kembali mengambil sisa untuk 3 hari berikutnya.
Kontrol terhadap inventory obat lebih teliti.
2.2. Kelemahan Sistim Resep Individu :
Aktifitas IFRS meningkat, dibutuhkan lebih banyak personil farmasi.
Seringkali obat yang telah dibayar, hanya sebahagian yang dikonsumsi pasien (tidak diberikan hingga habis).
Berpotensi terjadi pemborosan biaya obat bagi pasien.
Resiko terjadi pencurian (penghilangan) obat meningkat.
3. Unit Dose (Unit Dosis)
Pendistribusian melalui resep perseorangan, diberikan/ digunakan dan dibayar dalam unit dosis tunggal atau ganda, dikemas untuk satu kali pemakaian yang siap dikonsumsi.
Diberikan maksimal untuk kebutuhan 24 jam.
Disimpan dalam laci terpisah untuk setiap pasien.
Pelayanan dilakukan oleh satelit/ depo farmasi.
Keuntungan & Kelemahan Sistim Unit Dosis
3.1. Keuntungan :
Bagi Pasien :
Pasien hanya membayar obat yang dikonsumsi ----> menghemat biaya obat.
Menciptakan pengawasan ganda oleh farmasi juga perawat.
Bagi Perawat :
Punya lebih banyak waktu untuk merawat pasien.
Bagi Rumah Sakit :
Mengurangi resiko kehilangan obat
Kontrol terhadap sirkulasi obat lebih baik
Membantu pasien untuk efisiensi biaya obat.
Bagi Farmasi:
Inventori kontrol lebih baik (lebih efisien)
Mengurangi masalah obat retur.
3.2. Kelemahan Sistim Unit Dose :
Butuh lebih banyak tenaga farmasi untuk pelaksanaannya (biaya personil Apoteker jadi lebih tinggi).
Biaya distribusi obat jadi lebih tinggi.
Contoh Pemberian Obat Sistim Unit Dosis
Bila Resep :
Obat A , 2x1
Obat B, 3x1
Obat C, 4x1
Maka unit dosis satu kali konsumsi untuk pemakaian selama 24 jam:
Siang : B + C
Sore : A + B + C
Malam : C
Pagi : A + B + C
REFFERENSI
Depkes RI, “Keputusan Menteri Kesehatan No. 1197/MENKES/SK/X/2004 tentang Standar Pelayanan Farmasi di Rumah Sakit”, Jakarta, Depkes RI, 2004.
King Robert E., “Dispensing of Medication”, Mack Publishing Co., 1984.
Managemen Sciences for Heath MSH, “Managing Drug Supply”, 2nd Ed, Kumarian Press, USA, 1997.
PHARMACEUTICAL CARE
PHARMACEUTICAL CARE
(Falsafah Praktek Farmasi)
Penggunaan obat demi tercapainya peningkatan kualitas hidup manusia yang bertujuan untuk :
- Menyembuhkan penyakit
- Mengurangi gejala penyakit
- Menahan/memperlambat proses penyebaran penyakit
- Mencegah penyakit/gejala penyaki
PERAN MENDASAR PROFESI FARMASI
- Mengidentifikasi Drug Related Problem (DRP)
- Mencegah Drug Related Problem
- Memecahkan Drug Related Problem
TUJUAN KONAS
Tujuan KONAS adalah untuk menjamin:
1. Ketersediaan , pemerataan, dan keterjangkauan obat esensial
2. Keamanan, khasiat dan mutu semua obat yang beredar serta penggunaan obat yang rasional.
3. Masyarakat terlindung dari salah penggunaan dan penyalahgunaan obat
KRITERIA PEMILIHAN DOEN
1. Memiliki rasio manfaat-resiko yang paling menguntungkan penderita
2. Mutu terjamin
3. Praktis dalam penyimpanan dan pengangkutan
4. Praktis dalam penggunaan dan penyerahan
5. Menguntungkan dalam hal kepatuhan dan penerimaan oleh penderita
6. Memiliki rasio manfaat-biaya yang tertinggi yang berdasarkan biaya langsung dan tidak langsung
7 OUTPUT PENGADAAN EFEKTIF
1. Membeli obat-obatan yang tepat dalam jumlah yang tepat
2. Memperoleh harga pembelian serendah mungkin
3. Yakin bahwa seluruh obat yang dibeli standar kualitasnya diketahui
4. Mengatur pengiriman obat dari penyalur secara berkala (dalam waktu tertentu)
5. Menghindari kelebihan persediaan maupun kekurangan persediaan
6. Yakin akan keandalan penyalur dalam hal pemberian servis dan kualitas
7. Atur jadwal pembelian obat dan tingkat penyimpanan yang aman untuk mencapai total biaya rendah.
13 PRINSIP PENGADAAN PERBEKALAN FARMASI YANG BAIK
1. Pengadaan dengan nama generic
2. Pengadaan terbatas untuk DOEN dan daftar formularium
3. Pengadaan dalam jumlah besar
4. Kualifikasi dan pemantauan penyalur formal
5. Pengadaan yang kompetitif
6. Komitmen sumber tunggal
7. Kuantitas pesanan berdasarkan perkiraan kebutuhan kini yang terpercaya
8. Manajemen dengan pembayaran terpercaya dan keuangan yang baik
9. Transparansi dan prosedur tertulis
10. Pemisahan fungsi-fungsi kunci
11. Program QA produk
12. Pemeriksaan tahunan dengan laporan yang dipublikasikan
13. Laporan rutin pada kegiatan pengadaan
FUNGSI PENGADAAN HARUS TERPISAH
1. Pemilihan obat
2. Penentuan jumlah kebutuhan obat
3. Persiapan spesifikasi produk
4. Persetujuan supplier (prekualifikasi & postkualifikasi)
5. Penyesuaian dan penyerahan penawaran
Tanpa pemisahan fungsi, proses pengadaan akan lebih mudah terpengaruh oleh tujuan-tujuan tertentu. Dengan pemisahan fungsi tersebut memberikan kontribusi bagi profesionalisme dan pertanggungjawaban.
SISTEM PELAYANAN 1 PINTU
Adalah sistem dimana Instalasi Farmasi mempunyai garis koordinasi dengan apotek lain atau apotek pihak ketiga yang berdiri dilingkungan RS. Tanggung jawab dipegang oleh kepala IF RS.
Keuntungan efisiensi ruangan, penggajian tenaga farmasi, laporan lebih mudah terkoordinasi, meminimalisasi resiko kehilangan obat.
MENGAPA SISTEM DISTRIBUSI UNIT DOSE MEMUNGKINKAN TERLAKSANANYA PELAYANAN FARMASI KLINIK?
Karena sistem ini farmasis bertanggung jawab tidak hanya terhadap pengiriman produk obaat yang telah disiapkan secara hati-hati kepada pasien yang aman, akurat dan tepat waktu, tapi juga untuk pemantauan secara prospektif semua terapi obat yang dianjurkan untuk mendapatkan dosis yang sesuai antar terapi dengan kondisi pasien, efektivitas biaya terapi dan potensi untuk interaksi obat.
ANALISA VEN
Salah satu cara untuk meningkatkan efisiensi penggunaan dana obat yang terbatas yakni dengan mengelompokkan obat berdasarkan dampak tiap jenis obat pada kesehatan
- V (Vital) => kelompok obat penyelamat hidup (life saving drug), obat untuk pelayanan kesehatan pokok (vaksin), obat untuk mengatasi penyakit-penyakit penyebab kematian besar.
- E (Essential) => kelompok obat yang bekerja kausal (bekerja pada sumber penyebab penyakit)
- N (Non Essential) => merupakan obat-obat penunjang, yaitu obat yang kerjanya ringan dan biasanya digunakan untuk menimbulkan kenyamanan atau untuk mengatasi keluhan ringan (vitamin)
ANALISA ABC / PARETO
Disusun berdasarkan observasi dalam pengadaan persediaan obat, yang paling banyak ditemukan adalah tingkat konsumsi pertahun hanya diwakili oleh relative kecil sejumlah item. Analisa ABC mengelompokkan item obat berdasarkan kebutuhan dananya, yaitu :
a. Kelompok A => kelompok jenis obat yang jumah nilai rencana pengadaannya menunjukkan penyerapan sekitar 70% dari jumlah dana obat keseluruhan
b. Kelompok B => kelompok jenis obat yang jumlah nilai rencana pengadaannya menunjukkan penyerapan dana sekitar 20% dari jumlah dana obat keseluruhan.
c. Kelompok C => kelompok jenis obat yang jumlah nilai rencana pengadaannya menunjukkan penyerapan sekitar 10% dari jumlah dana obat keseluruhan.
Jika kedua metode digabungkan :
A B C
V VA VB VC
E EA EB EC
N NA NB NC
7 FUNGSI PERSEDIAAN
1. Untuk menghilangkan resiko keterlambatan pengiriman barang yang dibutuhkan oleh RS.
2. Untuk mencegah resiko jika barang yang dipesan kualitasnya tidak baik sehingga harus dikembalikan.
3. Untuk menghilangkan rssiko kenaikan harga barang.
4. Untuk mendapatkan keuntungan dari pembelian
5. Untuk menyiapkan nbahan atau obat yang dimasukan secara musiman sehingga RS tidak mengalami kesulitan bila bahan tersebut tidak ada dipasaran
6. Untuk memberikan pelayanan bagi pasien (kelengkapan dan ketersediaan obat)
7. Mendapatkan keuntungan dari pembelian berdasarkan potongan kuantitas. (quantity discount)
KATEGORI DRP
1. Tidak tepat indikasi
Misalnya : pada pasien demam berdarah diberikan obat penurun panas (Paracetamol, Asetosal)
2. Tidak tepat regimen (dosis, cara pemberian)
Misalnya : Obat – obat maag tidak tepat diberikan setelah makan.
3. Tidak tepat obat
Misalnya : Paracetamol tidak tepat untuk pasien gagal ginjal
4. Adanya interaksi obat
Misalnya : Pemberian Tetracyclin diberikan dengan Antasida (terutama yang mengandung unsur Calcium dan Aluminium) akan mengurangikerja Tetracyclin, karena terjadi ikatan kompleks dengan Tetracyclin yang tidak dapat melarut dalam cairan gastro – intestinal.
5. Masalah karena efek samping obat
Misalnya : Obat jantung dapat menyebabkan batuk jadi perlu ditambah obat batuk dan akan memberikan efek samping yang lain
6. Tidak mendapat obat
Misalnya : tidak mempunyai uang, obat kosong, obat tidak diminum.
(Falsafah Praktek Farmasi)
Penggunaan obat demi tercapainya peningkatan kualitas hidup manusia yang bertujuan untuk :
- Menyembuhkan penyakit
- Mengurangi gejala penyakit
- Menahan/memperlambat proses penyebaran penyakit
- Mencegah penyakit/gejala penyaki
PERAN MENDASAR PROFESI FARMASI
- Mengidentifikasi Drug Related Problem (DRP)
- Mencegah Drug Related Problem
- Memecahkan Drug Related Problem
TUJUAN KONAS
Tujuan KONAS adalah untuk menjamin:
1. Ketersediaan , pemerataan, dan keterjangkauan obat esensial
2. Keamanan, khasiat dan mutu semua obat yang beredar serta penggunaan obat yang rasional.
3. Masyarakat terlindung dari salah penggunaan dan penyalahgunaan obat
KRITERIA PEMILIHAN DOEN
1. Memiliki rasio manfaat-resiko yang paling menguntungkan penderita
2. Mutu terjamin
3. Praktis dalam penyimpanan dan pengangkutan
4. Praktis dalam penggunaan dan penyerahan
5. Menguntungkan dalam hal kepatuhan dan penerimaan oleh penderita
6. Memiliki rasio manfaat-biaya yang tertinggi yang berdasarkan biaya langsung dan tidak langsung
7 OUTPUT PENGADAAN EFEKTIF
1. Membeli obat-obatan yang tepat dalam jumlah yang tepat
2. Memperoleh harga pembelian serendah mungkin
3. Yakin bahwa seluruh obat yang dibeli standar kualitasnya diketahui
4. Mengatur pengiriman obat dari penyalur secara berkala (dalam waktu tertentu)
5. Menghindari kelebihan persediaan maupun kekurangan persediaan
6. Yakin akan keandalan penyalur dalam hal pemberian servis dan kualitas
7. Atur jadwal pembelian obat dan tingkat penyimpanan yang aman untuk mencapai total biaya rendah.
13 PRINSIP PENGADAAN PERBEKALAN FARMASI YANG BAIK
1. Pengadaan dengan nama generic
2. Pengadaan terbatas untuk DOEN dan daftar formularium
3. Pengadaan dalam jumlah besar
4. Kualifikasi dan pemantauan penyalur formal
5. Pengadaan yang kompetitif
6. Komitmen sumber tunggal
7. Kuantitas pesanan berdasarkan perkiraan kebutuhan kini yang terpercaya
8. Manajemen dengan pembayaran terpercaya dan keuangan yang baik
9. Transparansi dan prosedur tertulis
10. Pemisahan fungsi-fungsi kunci
11. Program QA produk
12. Pemeriksaan tahunan dengan laporan yang dipublikasikan
13. Laporan rutin pada kegiatan pengadaan
FUNGSI PENGADAAN HARUS TERPISAH
1. Pemilihan obat
2. Penentuan jumlah kebutuhan obat
3. Persiapan spesifikasi produk
4. Persetujuan supplier (prekualifikasi & postkualifikasi)
5. Penyesuaian dan penyerahan penawaran
Tanpa pemisahan fungsi, proses pengadaan akan lebih mudah terpengaruh oleh tujuan-tujuan tertentu. Dengan pemisahan fungsi tersebut memberikan kontribusi bagi profesionalisme dan pertanggungjawaban.
SISTEM PELAYANAN 1 PINTU
Adalah sistem dimana Instalasi Farmasi mempunyai garis koordinasi dengan apotek lain atau apotek pihak ketiga yang berdiri dilingkungan RS. Tanggung jawab dipegang oleh kepala IF RS.
Keuntungan efisiensi ruangan, penggajian tenaga farmasi, laporan lebih mudah terkoordinasi, meminimalisasi resiko kehilangan obat.
MENGAPA SISTEM DISTRIBUSI UNIT DOSE MEMUNGKINKAN TERLAKSANANYA PELAYANAN FARMASI KLINIK?
Karena sistem ini farmasis bertanggung jawab tidak hanya terhadap pengiriman produk obaat yang telah disiapkan secara hati-hati kepada pasien yang aman, akurat dan tepat waktu, tapi juga untuk pemantauan secara prospektif semua terapi obat yang dianjurkan untuk mendapatkan dosis yang sesuai antar terapi dengan kondisi pasien, efektivitas biaya terapi dan potensi untuk interaksi obat.
ANALISA VEN
Salah satu cara untuk meningkatkan efisiensi penggunaan dana obat yang terbatas yakni dengan mengelompokkan obat berdasarkan dampak tiap jenis obat pada kesehatan
- V (Vital) => kelompok obat penyelamat hidup (life saving drug), obat untuk pelayanan kesehatan pokok (vaksin), obat untuk mengatasi penyakit-penyakit penyebab kematian besar.
- E (Essential) => kelompok obat yang bekerja kausal (bekerja pada sumber penyebab penyakit)
- N (Non Essential) => merupakan obat-obat penunjang, yaitu obat yang kerjanya ringan dan biasanya digunakan untuk menimbulkan kenyamanan atau untuk mengatasi keluhan ringan (vitamin)
ANALISA ABC / PARETO
Disusun berdasarkan observasi dalam pengadaan persediaan obat, yang paling banyak ditemukan adalah tingkat konsumsi pertahun hanya diwakili oleh relative kecil sejumlah item. Analisa ABC mengelompokkan item obat berdasarkan kebutuhan dananya, yaitu :
a. Kelompok A => kelompok jenis obat yang jumah nilai rencana pengadaannya menunjukkan penyerapan sekitar 70% dari jumlah dana obat keseluruhan
b. Kelompok B => kelompok jenis obat yang jumlah nilai rencana pengadaannya menunjukkan penyerapan dana sekitar 20% dari jumlah dana obat keseluruhan.
c. Kelompok C => kelompok jenis obat yang jumlah nilai rencana pengadaannya menunjukkan penyerapan sekitar 10% dari jumlah dana obat keseluruhan.
Jika kedua metode digabungkan :
A B C
V VA VB VC
E EA EB EC
N NA NB NC
7 FUNGSI PERSEDIAAN
1. Untuk menghilangkan resiko keterlambatan pengiriman barang yang dibutuhkan oleh RS.
2. Untuk mencegah resiko jika barang yang dipesan kualitasnya tidak baik sehingga harus dikembalikan.
3. Untuk menghilangkan rssiko kenaikan harga barang.
4. Untuk mendapatkan keuntungan dari pembelian
5. Untuk menyiapkan nbahan atau obat yang dimasukan secara musiman sehingga RS tidak mengalami kesulitan bila bahan tersebut tidak ada dipasaran
6. Untuk memberikan pelayanan bagi pasien (kelengkapan dan ketersediaan obat)
7. Mendapatkan keuntungan dari pembelian berdasarkan potongan kuantitas. (quantity discount)
KATEGORI DRP
1. Tidak tepat indikasi
Misalnya : pada pasien demam berdarah diberikan obat penurun panas (Paracetamol, Asetosal)
2. Tidak tepat regimen (dosis, cara pemberian)
Misalnya : Obat – obat maag tidak tepat diberikan setelah makan.
3. Tidak tepat obat
Misalnya : Paracetamol tidak tepat untuk pasien gagal ginjal
4. Adanya interaksi obat
Misalnya : Pemberian Tetracyclin diberikan dengan Antasida (terutama yang mengandung unsur Calcium dan Aluminium) akan mengurangikerja Tetracyclin, karena terjadi ikatan kompleks dengan Tetracyclin yang tidak dapat melarut dalam cairan gastro – intestinal.
5. Masalah karena efek samping obat
Misalnya : Obat jantung dapat menyebabkan batuk jadi perlu ditambah obat batuk dan akan memberikan efek samping yang lain
6. Tidak mendapat obat
Misalnya : tidak mempunyai uang, obat kosong, obat tidak diminum.
OBAT PADA KEHAMILAN DAN MENYUSUI
PENGGUNAAN OBAT PADA KEHAMILAN DAN MENYUSUI
Teratogenesis Adalah bahan yang dapat menyebabkan atau berpengaruh terhadap malformasi atau kelainan fisiologis janin.
Teratogen : setiap faktor yang menyebabkan teratogenesis
Faktor Penyebab :
Unknown : 65 – 70%
Genetik : 20%
Chromosom aberration : 5-10%
Faktor lingkungan (Maternal/fetal) : 5-10%
Obat : 2-5%
Infeksi : 2 – 3% (CMV, rubella)
Penyakit : 1-2% (Epilepsi)
Radiasi : < 1%
Fetotoxin
Obat, yang digunakan oleh wanita hamil dan menyebabkan ‘fetal toxicity’
Fetal toxicity : reaksi efek yang tidak diharapkan dari obat pada dosis terapi
Contoh obat yang bersifat teratogen:
Tetrasiklin
Fenitoin
Penisilamin
Litium
NSAID
Teratogenesis dipengaruhi oleh:
Kemampuan obat berpindah melalui sawar uri
Efek farmakologis dan idiosinkrasi
Waktu terjadinya pemaparan obat
Kemampuan obat berpindah melalui sawar uri
Lebih mudah dilakukan oleh obat yang lipofil dan tidak terionisasi
Obat yang bersifat basa cenderung terperangkap dalam sirkulasi darah janin.
Hal ini dimanfaatkan untuk pengobatan janin, contoh: flekainid.
Mekanisme transfer
Difusi sederhana (untuk sebagian besar obat)
Difusi yang difasilitasi (glukosa)
Transport aktif (beberapa vitamin, asam amino)
Pinositosis (antibodi sistem imun)
Perusakan antar sel (eritrosit)
Faktor yang mempengaruhi perpindahan obat pd sawar uri
Berat molekul
Kelarutan dalam lemak
Ionisasi
Ikatan protein
Aliran darah dlm umbilikal dan uterus
Penyakit pada ibu
Efek farmakologis dan idiosinkrasi
Obat-obat tertentu memberi efek farmakologis yang lebih kuat secara langsung pada janin
Contoh: kortikosteroid dosis besar
Sifatnya idiosinkrasi
Waktu pemaparan obat (1)
Pada 2 minggu pertama konsepsi: efek “semua atau sama sekali tidak”.
Pada trimester pertama (10 minggu pertama = organogenesis) : paling berisiko besar terhadap perkembangan janin.
Pada trimester kedua dan ketiga: dapat mempengaruhi pertumbuhan serta perkembanagn fungsional janin atau efek toksik pada jaringan janin.
Waktu pemaparan obat (2)
Diberikan sesaat sebelum kelahiran: memberikan efek samping pada saat kelahiran atau pada neonatus setelah kelahiran.
Perhatikan: obat yang teratogenik yang dihentikan pemakaiannya sebelum konsepsi dapat tetap ada di tubuh selama organogenesis.
Penyebab malformasi kongenital
Monogenic origin
Abnormalitas kromosom
Interaksi antara hereditary tendencies dan nongenetic, environmental factors
Environmental factors
Tidak diketahui pasti (unknown)
Environmental factors
Teratogenic viruses:
fetal rubella syndrome (katarak, penyakit jantung, tuli)
Cytomegalovirus infection,menyebabkan tuli, retardasi mental
Protozoa:
Toxoplasma gondii, toksisitas yg terjadi: hepatosplenomegali, ikterus, maculopapular rash, hidrosefalus, mikrosefalus, korioretinitis, kalsifikasi serebral
Perubahan farmakokinetika selama kehamilan
Distribusi
terjadi peningkatan kadar air dan lemak total dalam tubuh, sehingga volume distribusi untuk kebanyakan obat meningkat.
Metabolisme
progesteron endogen yang meningkat pada kehamilan dapat menginduksi enzim sehingga metabolisme obat tertentu meningkat.
Perubahan farmakokinetika (2)
3. Ekskresi
laju filtrasi glomeruler meningkat sampai 50% pada saat kehamilan sampai kelahiran. Sehingga klirens obat yang diekskresi melalui ginjal dalam bentuk tak berubah akan meningkat.
Obat yang bersifat teratogenik
Antineoplastik: Metotreksat
Penghambat ACE
Antitiroid
Barbiturat
Karbamazepin
Kokain
Turunan kumarin
Dietilstilbestrol
Etanol (dosis tinggi)
Litium
Penggunaan obat saat menyusui
Anggapan yang salah:
Kebanyakan obat dapat dikeluarkan melalui ASI. Namun karena obat terencerkan pada tubuh ibu serta jumlah ASI yang terminum hanya sedikit, berarti obat tidak memberikan efek samping yang bermakna pada bayi yang disusui.
Risiko kepada bayi tergantung pd:
Bioavailabilitas obat pada ibu
Jumlah obat yang mencapai ASI
Jumlah obat yang dicerna oleh bayi
Bioavailabilitas obat pada bayi yang menyusui
Perpindahan obat melalui ASI, dipengaruhi oleh:
Parameter pada ibu
dosis obat – lama terapi - rute pemberian – frekuensi pemberian-metabolisme-klirens ginjal- aliran darah ke payudara- ph ASI – komposisi ASI - kadar obat yang mencapai ASI.
2. Parameter dari obat
bioavailabilitas pada ibu dan bayi, berat molekul, pKa obat, kelarutan pada lemak, ikatan protein
- pH ASI (6,9) < pH plasma (7,4)
kapasitas ikatan protein lebih rendah
kadar lemak lebih tinggi
Parameter pada bayi
Umur bayi – pola/waktu makan/menyusui – jumlah ASI yang dikonsumsi – absorpsi – distribusi – metabolisme dan eliminasi obat
Sifat fisikokimia obat
pKa
obat yang bersifat basa akan lebih banyak terdistribusi hingga ASI daripada obat yang bersifat asam.
Ikatan protein
obat yang banyak berikatan dengan protein cenderung tetap berada pada plasma ibu.
Lipofilitas
semakin lipofil obat, semakin banyak mencapai ASI.
Obat yang dikontra indikasikan saat menyusui
Amfetamin
Antineoplastik
Bromokriptin
Kokain
Ergotamin
Etanol
Heroin
Obat imunosupresan
Litium
Reaksi alergi dan menyusui
Tidak dapat diramalkan dan tidak bergantung kepada dosis
Secara teoretis, dapat menyebabkan hipersensitivitas pada bayi pada kadar yang terlalu rendah untuk memberikan efek farmakologis
Ibu harus segera menghentikan pemakaian obat apabila bayi menunjukkan reaksi hipersensitivitas.
Obat yang dapat mempengaruhi produksi ASI
Obat yang menurunkan produksi ASI:
estrogen
diuretik tiazid (Contoh : HCT)
antagonis serotonin (siproheptadin)
agonis dopamin (bromokriptin)
Obat yang meningkatkan produksi ASI: antagonis dopamin (metoklopramid)
Pedoman peresepan obat kepada ibu hamil
Pertimbangkan perawatan tanpa obat
Obat hanya diresepkan jika manfaat yang diperoleh ibu lebih besar daripada risiko kepada janin
Hindari penggunaan obat pada trimester pertama
Apabila diperlukan, gunakan obat yang keamanannya terhadap ibu hamil telah diketahui dengan pasti, pada dosis efektif terendah, penggunaan sesingkat mungkin
Pedoman peresepan obat kepada ibu hamil (2)
Obat harus digunakan pada dosis efektif terkecil dan jangka waktu sesingkat mungkin
Hindari polifarmasi
Pertimbangkan penyesuaian dosis dan pemantauan pengobatan pada beberapa obat, seperti misalnya fenitoin, litium.
Pedoman peresepan obat kepada ibu menyusui
Penggunaan obat yang tidak diperlukan harus dihindari
Jika harus menggunakan obat, pertimbangkan manfaat/risiko pada ibu dan bayi
Pilih rute pemberian dan pembagian obat yang menghasilkan kadar obat terkecil dalam ASI
Jika diberikan obat pada ibu menyusui, maka bayi harus dipantau secara cermat.
Pedoman peresepan obat kepada ibu menyusui (2)
Hentikan sementara menyusui apabila:
Jika obat diketahui memiliki efek berbahaya bagi bayi yang disusui
Jika obat sangat poten, sehingga kadar yang sedikit dalam ASI dapat membahayakan bayi
Jika ibu mengalami gangguan fungsi ginjal dan hati
Hindari penggunaan obat baru
Kategori Risiko Penggunaan Obat pada Kehamilan (FDA)
Kategori Risiko Penggunaan Obat pada Kehamilan (ADEC)
Kategori Risiko Penggunaan Obat pada Masa Menyusui menurut FDA
Contoh Kategori Risiko Penggunaan Obat (FDA)
Obat Bahan Alam yang sebaiknya dihindari pada kehamilan/menyusui karena tidak diketahui dengan pasti keamanannya
Teratogenesis Adalah bahan yang dapat menyebabkan atau berpengaruh terhadap malformasi atau kelainan fisiologis janin.
Teratogen : setiap faktor yang menyebabkan teratogenesis
Faktor Penyebab :
Unknown : 65 – 70%
Genetik : 20%
Chromosom aberration : 5-10%
Faktor lingkungan (Maternal/fetal) : 5-10%
Obat : 2-5%
Infeksi : 2 – 3% (CMV, rubella)
Penyakit : 1-2% (Epilepsi)
Radiasi : < 1%
Fetotoxin
Obat, yang digunakan oleh wanita hamil dan menyebabkan ‘fetal toxicity’
Fetal toxicity : reaksi efek yang tidak diharapkan dari obat pada dosis terapi
Contoh obat yang bersifat teratogen:
Tetrasiklin
Fenitoin
Penisilamin
Litium
NSAID
Teratogenesis dipengaruhi oleh:
Kemampuan obat berpindah melalui sawar uri
Efek farmakologis dan idiosinkrasi
Waktu terjadinya pemaparan obat
Kemampuan obat berpindah melalui sawar uri
Lebih mudah dilakukan oleh obat yang lipofil dan tidak terionisasi
Obat yang bersifat basa cenderung terperangkap dalam sirkulasi darah janin.
Hal ini dimanfaatkan untuk pengobatan janin, contoh: flekainid.
Mekanisme transfer
Difusi sederhana (untuk sebagian besar obat)
Difusi yang difasilitasi (glukosa)
Transport aktif (beberapa vitamin, asam amino)
Pinositosis (antibodi sistem imun)
Perusakan antar sel (eritrosit)
Faktor yang mempengaruhi perpindahan obat pd sawar uri
Berat molekul
Kelarutan dalam lemak
Ionisasi
Ikatan protein
Aliran darah dlm umbilikal dan uterus
Penyakit pada ibu
Efek farmakologis dan idiosinkrasi
Obat-obat tertentu memberi efek farmakologis yang lebih kuat secara langsung pada janin
Contoh: kortikosteroid dosis besar
Sifatnya idiosinkrasi
Waktu pemaparan obat (1)
Pada 2 minggu pertama konsepsi: efek “semua atau sama sekali tidak”.
Pada trimester pertama (10 minggu pertama = organogenesis) : paling berisiko besar terhadap perkembangan janin.
Pada trimester kedua dan ketiga: dapat mempengaruhi pertumbuhan serta perkembanagn fungsional janin atau efek toksik pada jaringan janin.
Waktu pemaparan obat (2)
Diberikan sesaat sebelum kelahiran: memberikan efek samping pada saat kelahiran atau pada neonatus setelah kelahiran.
Perhatikan: obat yang teratogenik yang dihentikan pemakaiannya sebelum konsepsi dapat tetap ada di tubuh selama organogenesis.
Penyebab malformasi kongenital
Monogenic origin
Abnormalitas kromosom
Interaksi antara hereditary tendencies dan nongenetic, environmental factors
Environmental factors
Tidak diketahui pasti (unknown)
Environmental factors
Teratogenic viruses:
fetal rubella syndrome (katarak, penyakit jantung, tuli)
Cytomegalovirus infection,menyebabkan tuli, retardasi mental
Protozoa:
Toxoplasma gondii, toksisitas yg terjadi: hepatosplenomegali, ikterus, maculopapular rash, hidrosefalus, mikrosefalus, korioretinitis, kalsifikasi serebral
Perubahan farmakokinetika selama kehamilan
Distribusi
terjadi peningkatan kadar air dan lemak total dalam tubuh, sehingga volume distribusi untuk kebanyakan obat meningkat.
Metabolisme
progesteron endogen yang meningkat pada kehamilan dapat menginduksi enzim sehingga metabolisme obat tertentu meningkat.
Perubahan farmakokinetika (2)
3. Ekskresi
laju filtrasi glomeruler meningkat sampai 50% pada saat kehamilan sampai kelahiran. Sehingga klirens obat yang diekskresi melalui ginjal dalam bentuk tak berubah akan meningkat.
Obat yang bersifat teratogenik
Antineoplastik: Metotreksat
Penghambat ACE
Antitiroid
Barbiturat
Karbamazepin
Kokain
Turunan kumarin
Dietilstilbestrol
Etanol (dosis tinggi)
Litium
Penggunaan obat saat menyusui
Anggapan yang salah:
Kebanyakan obat dapat dikeluarkan melalui ASI. Namun karena obat terencerkan pada tubuh ibu serta jumlah ASI yang terminum hanya sedikit, berarti obat tidak memberikan efek samping yang bermakna pada bayi yang disusui.
Risiko kepada bayi tergantung pd:
Bioavailabilitas obat pada ibu
Jumlah obat yang mencapai ASI
Jumlah obat yang dicerna oleh bayi
Bioavailabilitas obat pada bayi yang menyusui
Perpindahan obat melalui ASI, dipengaruhi oleh:
Parameter pada ibu
dosis obat – lama terapi - rute pemberian – frekuensi pemberian-metabolisme-klirens ginjal- aliran darah ke payudara- ph ASI – komposisi ASI - kadar obat yang mencapai ASI.
2. Parameter dari obat
bioavailabilitas pada ibu dan bayi, berat molekul, pKa obat, kelarutan pada lemak, ikatan protein
- pH ASI (6,9) < pH plasma (7,4)
kapasitas ikatan protein lebih rendah
kadar lemak lebih tinggi
Parameter pada bayi
Umur bayi – pola/waktu makan/menyusui – jumlah ASI yang dikonsumsi – absorpsi – distribusi – metabolisme dan eliminasi obat
Sifat fisikokimia obat
pKa
obat yang bersifat basa akan lebih banyak terdistribusi hingga ASI daripada obat yang bersifat asam.
Ikatan protein
obat yang banyak berikatan dengan protein cenderung tetap berada pada plasma ibu.
Lipofilitas
semakin lipofil obat, semakin banyak mencapai ASI.
Obat yang dikontra indikasikan saat menyusui
Amfetamin
Antineoplastik
Bromokriptin
Kokain
Ergotamin
Etanol
Heroin
Obat imunosupresan
Litium
Reaksi alergi dan menyusui
Tidak dapat diramalkan dan tidak bergantung kepada dosis
Secara teoretis, dapat menyebabkan hipersensitivitas pada bayi pada kadar yang terlalu rendah untuk memberikan efek farmakologis
Ibu harus segera menghentikan pemakaian obat apabila bayi menunjukkan reaksi hipersensitivitas.
Obat yang dapat mempengaruhi produksi ASI
Obat yang menurunkan produksi ASI:
estrogen
diuretik tiazid (Contoh : HCT)
antagonis serotonin (siproheptadin)
agonis dopamin (bromokriptin)
Obat yang meningkatkan produksi ASI: antagonis dopamin (metoklopramid)
Pedoman peresepan obat kepada ibu hamil
Pertimbangkan perawatan tanpa obat
Obat hanya diresepkan jika manfaat yang diperoleh ibu lebih besar daripada risiko kepada janin
Hindari penggunaan obat pada trimester pertama
Apabila diperlukan, gunakan obat yang keamanannya terhadap ibu hamil telah diketahui dengan pasti, pada dosis efektif terendah, penggunaan sesingkat mungkin
Pedoman peresepan obat kepada ibu hamil (2)
Obat harus digunakan pada dosis efektif terkecil dan jangka waktu sesingkat mungkin
Hindari polifarmasi
Pertimbangkan penyesuaian dosis dan pemantauan pengobatan pada beberapa obat, seperti misalnya fenitoin, litium.
Pedoman peresepan obat kepada ibu menyusui
Penggunaan obat yang tidak diperlukan harus dihindari
Jika harus menggunakan obat, pertimbangkan manfaat/risiko pada ibu dan bayi
Pilih rute pemberian dan pembagian obat yang menghasilkan kadar obat terkecil dalam ASI
Jika diberikan obat pada ibu menyusui, maka bayi harus dipantau secara cermat.
Pedoman peresepan obat kepada ibu menyusui (2)
Hentikan sementara menyusui apabila:
Jika obat diketahui memiliki efek berbahaya bagi bayi yang disusui
Jika obat sangat poten, sehingga kadar yang sedikit dalam ASI dapat membahayakan bayi
Jika ibu mengalami gangguan fungsi ginjal dan hati
Hindari penggunaan obat baru
Kategori Risiko Penggunaan Obat pada Kehamilan (FDA)
Kategori Risiko Penggunaan Obat pada Kehamilan (ADEC)
Kategori Risiko Penggunaan Obat pada Masa Menyusui menurut FDA
Contoh Kategori Risiko Penggunaan Obat (FDA)
Obat Bahan Alam yang sebaiknya dihindari pada kehamilan/menyusui karena tidak diketahui dengan pasti keamanannya
Jumat, 01 Oktober 2010
TEHNIK PEMBERIAN OBAT
TEHNIK PEMBERIAN OBAT
Pemberian obat kepada pasien dapat dilakukan melalui beberapa cara di antiaranya: oral, parenteral, rektal, vaginal, kulit, mata, telinga dan hidung, dengan menggunakan prinsip lima tepat yakni tepat nama pasien, tepat nama obat, tepat dosis obat, tepat cara pemberian dan tepat waktu pemberian.
Pemberian Obat per Oral
Merupakan cara pemberian obat melalui mulut dengan tujuan mencegah, mengobati, mengurangi rasa sakit sesuai dengan efek terapi dari jenis obat.
Alat dan Bahan:
1. Daftar buku obat/ catatan, jadual pemberian obat.
2. Obat dan tempatnya.
3. Air minum dalam tempatnya.
Prosedur Kerja:
1. Cuci tangan.
2. Jelaskan prosedur yang akan dilakukan.
3. Baca obat, dengan berprinsip tepat obat, tepat pasien, tepat dosis, tepat waktu dan tepat tempat.
4. Bantu untuk meminumkannya dengan cara:
• Apabila memberikan obat berbentuk tablet atau kapsul dari botol, maka tuangkan jumlah yang dibutuhkan ke dalam tutup botol dan pindahkan ke tempat obat. Jangan sentuh obat dengan tangan. Untuk obat berupa kapsul jangan dilepaskan pembungkusnya.
• Kaji kesulitan menelan, bila ada jadikan tablet dalam bentuk bubuk dan campur dengan minuman.
• Kaji denyut nadi dan tekanan darah sebelum pemberian obat yang membutuhkan pengkajian.
5. Catat perubahan, reaksi terhadap pemberian, dan evaluasi respon terhadap obat dengan mencatat hasil pemberian obat.
6. Cuci tangan.
Pemberian Obat via Jaringan Intrakutan
Merupakan cara memberikan atau memasukkan obat ke dalam jaringan kulit dengan tujuan untuk melakukan tes terhadap reaksi alergi jenis obat yang akan digunakan. Pemberian obat melalui jaringan intrakutan ini dilakukan di bawah dermis atau epidermis, secara umum dilakukan pada daerah lengan tangan bagian ventral.
Alat dan Bahan:
1. Daftar buku obat/catatan, jadual pemberian obat.
2. Obat dalam tempatnya.
3. Spuit 1 cc:/spuit insulin.
4. Kapas alkohol dalam tempatnya.
5. Cairan pclarut.
7. Bak steril dilapisi kas steril (tempat spuit).
8. Bengkok.
9. Perlak dan alasnya.
Prosedur Kerja:
1. Cuci tangan.
2. Jelaskan prosedur yang akan dilakukan.
3. Bebaskan daerah yang akan disuntik, bila menggunakan baju lengan panjang buka dan ke ataskan.
4. Pasang perlak/ pengalas di bawah bagian yang disuntik.
5. Ambil obat untuk tes alergi kemudian larutkan/encerkan dengan aquadcs (cairan pelarut) kemudian ambil 0,5 cc dan encerkan lagi sampai kurang lebih 1 cc, dan siapkan pada bak injeksi atau steril.
6. Desinfeksi dengan kapas alkohol pada daerah yang akan dilakukan suntikan.
7. Tegangkan dengan tangan kiri atau daerah yang akan disuntik.
8. Lakukan penusukan dengan lubang menghadap ke atas dengan sudut 15-20 derajat dc:ngan permukaan kulit.
9. Semprotkan obat hingga terjadi gelembung.
10. Tarik spuit dan tidak boleh dilakukan masase.
11. Catat reaksi pc;mberian.
12. Cuci tangan dan c:atat hasil pemberian obat/ test obat, tanggal waktu dan jenis obat.
Pemberian Obat Intravena Langsung
Cara memberikan obat melalui vena secara langsung, di antaranya vena mediana cubiti/cephalika (lengan), vena saphenous (tungkai), vena jugularis (leher), vena langsung
frontalis/temporalis (kepala), yang bertujuan agar reaksi cepat dan masuk pada pembuluh darah.
Alat dan Bahan:
1. Daftar buku obat/catatan, jadual pemberian obat.
2. Obat dalam tempatnya.
3. Spuit sesuai dengan jenis ukuran.
4. Kapas alkohol dalam tempatnya.
5. Cairan pelarut.
6. Bak injeksi.
7. Bengkok.
8. Perlak dan alasnya.
9. Karet pembendung (torniquet).
Prosedur Kerja:
1. Cuci tangan.
2. Jelaskan prosedur yang akan dilakukan.
3. Bebaskan daerah yang disuntik dengan cara membebaskan daerah yang akan dilakukan penyuntikan dari pakaian dan apabila tertutup buka atau ke ataskan.
4. Ambil obat dalam tempatnya dengan spuit sesuai dengan dosis yang akan diberikan. Apabila obat berada dalam bentuk sediaan bubuk, maka larutkan dengan pelarut (aquades steril).
5. Pasang perlak atau pengalas di bawah vena yang akan dilakukan penyuntikan.
6. Kemudian tempatkan obat yang telah diambil pada bak injeksi.
7. Desinfeksi dengan kapas alkohol.
8. Lakukan pengikatan dengan karet pembendung (torniquet) pada bagian atas daerah yang akan dilakukan pemberian obat atau tegangkan dengan tangan/minta bantuan atau membendung di atas vena yang akan dilakukan penyuntikan.
9. Ambil spuit yang berisi obat.
10. Lakukan penusukkan dengan lubang menghadap ke atas dengan memasukkan ke pembuluh darah.
11. Lakukan aspirasi bila sudah ada darah lepaskan karet pembendung dan langsung semprotkan obat hingga habis.
12. Setelah selesai ambil spuit dengan menarik dan lakukan penekanan pada daerah penusukkan dengan kapas alkohol, dan spuit yang telah digunakan letakkan ke dalam bengkok.
13. Catat reaksi pemberian, tanggal, waktu, dan dosis pemberian obat.
14. Cuci tangan.
Pemberian Obat Intravena Tidak Langsung (via Wadah)
Merupakan cara memberikan obat dengan menambahkan atau memasukkan obat ke dalam wadah cairan intravena yang bertujuan untuk meminimalkan eff:k samping dan mempertahankan kadar terapetik dalam darah.
Alat dan Bahan:
1. Spuit dan jarum sesuai dengan ukuran.
2. Obat dalam tempatnya.
3. Wadah cairan (kantong/botol).
4. Kapas alkohol.
Prosedur Kerja:
1. Cuci tangan.
2. Jelaskan prosedur yang akan dilakukan.
3. Periksa identitas pasien dan ambil obat kemudian masukkan ke dalam spuit.
4. Cari tempat pc:nyuntikan obat pada daerah kantong.
5. Lakukan dcsinfeksi dengan kapas alkohol dan stop aliran.
6. Lakukan penyuntikan dengan memasukkan jarum spuiti hingga menembus bagian tengah dan masukkan obat perlahan-lahan ke dalam kantong/wadah c:airan.
7. Setelah selesai tarik spuit dan campur larutan dengan membalikkan kantong cairan dengan perlahan-lahan dari satu ujung ke ujung lain.
8. Periksa kecepatan infus.
9. Cuci tangan.
10. Catat reaksi pembe°rian, tanggal, waktu, dan dosis pemberian obat.
Pemberian Obat Intravena Melalui Selang
Alat dan Bahan:
1. Spuit dan jarum sesuai dengan ukuran.
2. Obat dalam tcmpatnya.
3. Selang intravena.
4. Kapas alkohol.
Prosedur Kerja:
1. Cuci tangan.
2. Jelaskan prosedur yang akan dilakukan.
3. Periksa identitas pasien dan ambil obat kemudian masukkan ke dalam spuit.
4. Cari tempat penyuntikan obat pada dacrah selang intra vena.
5. Lakukan desinfeksi dengan kapas alkohol dan stop aliran.
6. Lakukan penyuntikan dengan memas.ukkan jarum spuit hingga menembus bagian tengah dan masukkan obat perlahan-lahan ke dalam sdang intra vena.
7. Setelah selesai tarik spuit.
8. Periksa kecepatan infus dan obsc:rvasi reaksi obat.
9. Cuci tangan.
10. Catat obat yang telah diberikan dan dosisnya.
Gambar B.6 Pemberian Obat Melalui Selang Intravena
Pemberian Obat per Intramuskular
Merupakan cara memasukkan obat ke dalam jaringan otot. Lokasi penyuntikan dapat pada daerah paha (vastus lateralis), ventrogluteal (dengan posisi berbaring), dorsogluteal (posisi tengkurap), atau lengan atas (deltoid). Tujuannya agar absorpsi obat lebih cepat.
Alat dan Bahan:
1. Daftar buku obat/catatan, jadual pemberian obat.
2. Obat dalam tempatnya.
3. Spuit sesuai dengan ukuran, jarum sesuai dengan ukuran: dewasa panjang 2,5-3,75 cm, anak panjang 1,25-2,5 cm.
4. Kapas alkohol dalam tempatnya.
5. Cairan pelarut.
6. Bak injeksi.
7. Bengkok.
Prosedur Kerja:
1. Cuci tangan.
2. Jelaskan prosedur yang akan dilakukan.
3. Ambil obat kemudian masukkan kedalam spuit sesuai dengan dosis setelah itu letakkan pada bak injeksi.
4. Periksa tempat yang akan dilakukan penyuntikan (lihat lokasi penyuntikan).
5. Desinfeksi dengan kapas alkohol pada tempat yang akan dilakukan penyuntikan.
6. Lakukan Penyuntikan:
a. Pada daerah paha (vastus lateralis) dengan cara anjurkan pasien untuk berbaring telentang dengan lutut sedikit fieksi.
b. Pada ventrogluteal dengan cara anjurkan pasien untuk miring, tengkurap atau telentang dengan lutut dan pinggul pada sisi yang akan dilakukan penyuntikan dalam keadaan fieksi.
c. Pada daerah dorsogluteal dengan cara anjurkan pasien untuk tengkurap dengan lutut di putar ke arah dalam atau miring dengan lutut bagian atas dan pinggul fieksi dan diletakkan di depan tiungkai bawah.
d. Pada daerah deltoid (lengan atas) dengan cara anjurkan pasien untuk duduk atau bcrbaring mendatar lengan atas fieksi.
7. Lakukan penusukan dengan posisi jarum tegak lurus.
8. Setelah jarum masuk lakukan aspirasi spuit bila tidak ada darah semprotkan obat secara perlahan-lahan hingga habis.
9. Setelah selesai ambil spuit dengan menarik spuit dan tekan daerah penyuntikan dengan kapas alkohol, kemudian spuit yang telah digunakan letakkan pada bengkok.
10. Catat reaksi pemberian, jumlah dosis, dan waktu pemberian.
11. Cuci tangan.
Pemberian Obat via Anus/Rektum
Merupakan cara memberikan obat dengan memasukkan obat melalui anus atau rektum, dengan tujuan memberikan efek lokal dan sistemik. Tindakan pengobatan ini disebut pemberian obat suppositoria yang bertujuan untuk mendapatkan efek terapi obat, menjadikan lunak pada daerah feses dan merangsang buang air besar.
Contoh pemberian obat yang memiliki efek lokal seperti obat dulcolac supositoria yang berfungsi secara lokal untuk meningkatkan defekasi dan contoh efek sistemik pada obat aminofilin suppositoria dengan berfungsi mendilatasi bronkus. Pemberian obat supositoria ini diberikan tepat pada dnding rektal yang melewati sfingter ani interna. Kontra indikasi pada pasien yang mengalami pembedahan rektal.
Alat dan Bahan:
1. Obat suppositoria dalam tempatnya.
2. Sarung tangan.
3. Kain kasa.
4. Vaselin/pelicin/pelumas.
5. Kertas tisu.
Prosedur Kerja:
1. Cuci tangan.
2. Jelaskan prosedur yang akan dilakukan.
3. Gunakan sarung tangan.
4. Buka pembungkus obat dan pegang dengan kain kasa.
5. Oleskan ujung pada obat suppositoria dengan pelicin.
6. Regangkan glutea dengan tangan kiri, kemudian masukkan suppositoria dengan perlahan melalui anus, sfingter anal interna dan mengenai dinding rektal kurang lebih 10 cm pada orang dewasa, 5 cm pada bayi atau anak.
7. etelah selesai tarik jari tangan dan bersihkan daerah sekitar anal dengan tisu.
8. Anjurkan pasien untuk tetap berbaring telentang atau miring selama kurang lebih 5 menit.
9. Setelah selesai lepaskan sarung tangan ke dalam bengkok.
10. Cuci tangan.
11. Catat obat, jumlah dosis, dan cara pemberian.
Pemberian Obat per Vagina
Merupakan cara memberikan obat dengan memasukkan obat melalui vagina, yang bertujuan untuk mendapatkan efek terapi obat dan mengobati saluran vagina atau serviks. Obat ini tersedia dalam bentuk krim dan suppositoria yang digunakan untuk mengobati infeksi lokal.
Alat dan Bahan:
1. Obat dalam tempatnya.
2. Sarung tangan.
3. Kain kasa.
4. Kertas tisu.
5. Kapas sublimat dalam tempatnya.
6. Pengalas.
7. Korentang dalam tempatnya.
Prosedur Kerja:
1. Cuci tangan.
2. Jelaskan prosedur yang akan dilakukan.
3. Gunakan sarung tangan.
4. Buka pembungkus obat dan pegang dengan kain kasa.
5. Bersihkan sekitar alat kelamin dengan kapas sublimat.
6. Anjurkan pasien tidur dalam posisi dorsal recumbert.
7. Apabila jenis obat suppositoria maka buka pembungkus dan berikan pelumas pada obat.
8. Regangkan labia minora dengan tangan kiri dan masukkan obat sepanjang dinding kanal vaginal posterior sampai 7,5-10 cm.
9. Setelah obat masuk, bersihkan daerah sekitar orifisium dan labia dengan tisu.
10. Anjurkan untuk tetap dalam posisi kurang lebih 10 menit agar obat bereaksi.
11. Cuci tangan.
12. Catat jumlah, dosis, waktu, dan cara pemberian.
Catatan: apabila menggunakan obat jenis krim, isi aplikator krim atau ikuti petunjuk krim yang tertera pada kemasan, renggangkan lipatan labia dan masukkan aplikator kurang lebih 7,5 cm dan dorong penarik aplikator untuk mengeluarkan obat dan lanjutkan sesuai langkah nomor 8,9,10,11.
Pemberian Obat pada Kulit
Merupakan cara memberikan obat pada kulit dengan mengoleskan bertujuan mempertahankan hidrasi, melindungi permukaan kulit, mengurangi iritasi kulit, atau mengatasi infeksi. Pemberian obat kulit dapat bermacam-macam seperti krim, losion, aerosol, dan sprei.
Alat dan Bahan:
1. Obat dalam tempatnya (seperti losion, krim,aerosol, sprei).
2. Pinset anatomis.
3. Kain kasa.
4. Kertas tisu.
5. Balutan.
6. Pengalas.
7. Air sabun, air hangat.
8. Sarung tangan.
Prosedur Kerja:
1. Cuci tangan.
2. Jelaskan prosedur yang akan dilakukan.
3. Pasang pengalas di bawah daerah yang akan dilakukan tindakan.
4. Gunakan sarung tangan.
5. Bersihkan daerah yang akan di beri obat dengan air hangat (apabila terdapat kulit mengeras) dan gunakan pinset anatomis.
6. Berikan obat sesuai dengan indikasi dan cara pemakaian seperti mengoleskan, mengompres.
7. Kalau perlu tutup dengan kain kasa atau balutan pada daerah diobati.
8. Cuci tangan.
Pemberian Obat pada Mata
Cara memberikan obat pada mata dengan tetes mata atau salep mata obat tetes mata digunakan untuk persiapan pemeriksaan struktur internal mata dengan cara mendilatasi pupil, untuk pengukuran refraksi lensa dengan cara melemahkan otot lensa, kemudian juga dapat digunakan untuk menghilangkan iritasi mata.
Alat dan Bahan:
1. Obat dalam tempatnya dengan penetes steril atau berupa salep.
2. Pipet.
3. Pinset anatomi dalam tempatnya.
4. Korentang dalam tempatnya.
5. Plestier.
6. Kain kasa.
7. Kertas tisu.
8. Balutan.
9. Sarung tangan.
10. Air hangat/kapas pelembab.
Prosedur Kerja:
1. Cuci tangan.
2. Jelaskan prosedur yang akan dilakukan.
3. Atur posisi pasien dengan kepala menengadah dengan posisi perawat di samping kanan.
4. Gunakan sarung tangan.
5. Bersihkan daerah kelopak dan bulu mata dengan kapas lembab dari sudut mata ke arah hidung, apabila sangat kotor basuh dengan air hangat.
6. Buka mata dengan menekan perlahan-lahan bagian bawah dengan ibu jari, jari telunjuk di atas tulang orbita.
7. Teteskan obat mata di atas sakus konjungtiva. Setelah tetesan selesai sesuai dengan dosis, anjurkan pasien untuk menutup mata dengan perlahan-lahan, apabila menggunakan obat tetes mata.
8. Apabila obat mata jenis salep pegang aplikator salep di atas pinggir kelopak mata kemudian pencet tube sehingga obat keluar dan berikan obat pada kelopak mata bawah. Setelah selesai, anjurkan pasien untuk melihat ke bawah, secara bergantian dan berikan obat pada kelopak mata bagian atas dan biarkan pasien untuk memejamkan mata dan menggerakkan kelopak mata.
9. Tutup mata dengan kasa bila perlu.
10. Cuci tangan.
11. Catat obat, jumlah, waktu, dan tempat pemberian.
Pemberian Obat pada Telinga
Cara memberikan obat pada telinga dengan tetes telinga atau salep. Obat tetes telinga ini pada umumnya diberikan pada gangguan infeksi telinga khususnya pada telinga tengah (otitis media), dapat berupa obat antibiotik.
Alat dan Bahan:
1. Obat dalam tempatnya.
2. Penetes.
3. Spekulum telinga.
4. Pinset anatomi dalam tempatnya.
5. Korentang dalam tempatnya.
6. Plester.
7. Kain kasa.
8. Kertas tisu.
9. Balutan.
Prosedur Kerja:
1. Cuci tangan.
2. Jelaskan prosedur yang akan dilakukan.
3. Atur posisi pasien dengan kepala miring ke kanan atau ke kiri sesuai dengan daerah yang akan diobati, usahakan agar lubang telinga pasien ke atas.
4. Luruskan lubang telinga dengan menarik daun telinga ke atas/ke belakang (pada orang dewasa), ke bawah pada anak.
5. Apabila obat berupa tetes, maka teteskan obat pada dinding mencegah terhalang oleh gelembung udara dengan jumlah dengan dosis.
6. Apabila berupa salep maka ambil kapas lidi dan oleskan masukkan atau oleskan pada liang telinga.
7. Pertahankan posisi kepala kurang lebih 2-3 menit.
8. Tutup telinga dengan pembalut dan plester kalau perlu.
9. uci tangan.
10. Catat jumlah, tanggal, dan dosis pemberian.
Pemberian Obat pada Hidung
Cara memberikan obat pada hidung dengan tetes hidung yang dapat dilakukan ada seseorang dengan keradangan hidung (rhinitis) atau nasofaring.
Alat dan Bahan:
1. Obat dalam tempatnya.
2. Pipet.
3. Spekulum hidung.
4. Pinset anatomi dalam tempatnya.
5. Korentang dalam tempatnya.
6. Plester.
7. Kain kasa.
8. Kertas tisu.
9. Balutan .
Prosedur Kerja:
1. Cuci tangan.
2. Jelaskan prosedur yang akan dilakukan.
3. Atur posisi pasien dengan cara:
a. Duduk di kursi dengan kepala menengadah ke belakang.
b. Berbaring dengan kepala ekstensi pada tepi tempat tidur.
c. Berbaring dengan bantal di bawah. bahu dan kcpala belakang.
4. Berikan tetesan obat pada tiap lubang hidung (sesuai dengan Pertahankan posisi kepala tetap tengadah ke belakang selama
5. Cuci tangan.
6. Catat, c:ara, tanggal, dan dosis pemberian obat.
Pemberian obat kepada pasien dapat dilakukan melalui beberapa cara di antiaranya: oral, parenteral, rektal, vaginal, kulit, mata, telinga dan hidung, dengan menggunakan prinsip lima tepat yakni tepat nama pasien, tepat nama obat, tepat dosis obat, tepat cara pemberian dan tepat waktu pemberian.
Pemberian Obat per Oral
Merupakan cara pemberian obat melalui mulut dengan tujuan mencegah, mengobati, mengurangi rasa sakit sesuai dengan efek terapi dari jenis obat.
Alat dan Bahan:
1. Daftar buku obat/ catatan, jadual pemberian obat.
2. Obat dan tempatnya.
3. Air minum dalam tempatnya.
Prosedur Kerja:
1. Cuci tangan.
2. Jelaskan prosedur yang akan dilakukan.
3. Baca obat, dengan berprinsip tepat obat, tepat pasien, tepat dosis, tepat waktu dan tepat tempat.
4. Bantu untuk meminumkannya dengan cara:
• Apabila memberikan obat berbentuk tablet atau kapsul dari botol, maka tuangkan jumlah yang dibutuhkan ke dalam tutup botol dan pindahkan ke tempat obat. Jangan sentuh obat dengan tangan. Untuk obat berupa kapsul jangan dilepaskan pembungkusnya.
• Kaji kesulitan menelan, bila ada jadikan tablet dalam bentuk bubuk dan campur dengan minuman.
• Kaji denyut nadi dan tekanan darah sebelum pemberian obat yang membutuhkan pengkajian.
5. Catat perubahan, reaksi terhadap pemberian, dan evaluasi respon terhadap obat dengan mencatat hasil pemberian obat.
6. Cuci tangan.
Pemberian Obat via Jaringan Intrakutan
Merupakan cara memberikan atau memasukkan obat ke dalam jaringan kulit dengan tujuan untuk melakukan tes terhadap reaksi alergi jenis obat yang akan digunakan. Pemberian obat melalui jaringan intrakutan ini dilakukan di bawah dermis atau epidermis, secara umum dilakukan pada daerah lengan tangan bagian ventral.
Alat dan Bahan:
1. Daftar buku obat/catatan, jadual pemberian obat.
2. Obat dalam tempatnya.
3. Spuit 1 cc:/spuit insulin.
4. Kapas alkohol dalam tempatnya.
5. Cairan pclarut.
7. Bak steril dilapisi kas steril (tempat spuit).
8. Bengkok.
9. Perlak dan alasnya.
Prosedur Kerja:
1. Cuci tangan.
2. Jelaskan prosedur yang akan dilakukan.
3. Bebaskan daerah yang akan disuntik, bila menggunakan baju lengan panjang buka dan ke ataskan.
4. Pasang perlak/ pengalas di bawah bagian yang disuntik.
5. Ambil obat untuk tes alergi kemudian larutkan/encerkan dengan aquadcs (cairan pelarut) kemudian ambil 0,5 cc dan encerkan lagi sampai kurang lebih 1 cc, dan siapkan pada bak injeksi atau steril.
6. Desinfeksi dengan kapas alkohol pada daerah yang akan dilakukan suntikan.
7. Tegangkan dengan tangan kiri atau daerah yang akan disuntik.
8. Lakukan penusukan dengan lubang menghadap ke atas dengan sudut 15-20 derajat dc:ngan permukaan kulit.
9. Semprotkan obat hingga terjadi gelembung.
10. Tarik spuit dan tidak boleh dilakukan masase.
11. Catat reaksi pc;mberian.
12. Cuci tangan dan c:atat hasil pemberian obat/ test obat, tanggal waktu dan jenis obat.
Pemberian Obat Intravena Langsung
Cara memberikan obat melalui vena secara langsung, di antaranya vena mediana cubiti/cephalika (lengan), vena saphenous (tungkai), vena jugularis (leher), vena langsung
frontalis/temporalis (kepala), yang bertujuan agar reaksi cepat dan masuk pada pembuluh darah.
Alat dan Bahan:
1. Daftar buku obat/catatan, jadual pemberian obat.
2. Obat dalam tempatnya.
3. Spuit sesuai dengan jenis ukuran.
4. Kapas alkohol dalam tempatnya.
5. Cairan pelarut.
6. Bak injeksi.
7. Bengkok.
8. Perlak dan alasnya.
9. Karet pembendung (torniquet).
Prosedur Kerja:
1. Cuci tangan.
2. Jelaskan prosedur yang akan dilakukan.
3. Bebaskan daerah yang disuntik dengan cara membebaskan daerah yang akan dilakukan penyuntikan dari pakaian dan apabila tertutup buka atau ke ataskan.
4. Ambil obat dalam tempatnya dengan spuit sesuai dengan dosis yang akan diberikan. Apabila obat berada dalam bentuk sediaan bubuk, maka larutkan dengan pelarut (aquades steril).
5. Pasang perlak atau pengalas di bawah vena yang akan dilakukan penyuntikan.
6. Kemudian tempatkan obat yang telah diambil pada bak injeksi.
7. Desinfeksi dengan kapas alkohol.
8. Lakukan pengikatan dengan karet pembendung (torniquet) pada bagian atas daerah yang akan dilakukan pemberian obat atau tegangkan dengan tangan/minta bantuan atau membendung di atas vena yang akan dilakukan penyuntikan.
9. Ambil spuit yang berisi obat.
10. Lakukan penusukkan dengan lubang menghadap ke atas dengan memasukkan ke pembuluh darah.
11. Lakukan aspirasi bila sudah ada darah lepaskan karet pembendung dan langsung semprotkan obat hingga habis.
12. Setelah selesai ambil spuit dengan menarik dan lakukan penekanan pada daerah penusukkan dengan kapas alkohol, dan spuit yang telah digunakan letakkan ke dalam bengkok.
13. Catat reaksi pemberian, tanggal, waktu, dan dosis pemberian obat.
14. Cuci tangan.
Pemberian Obat Intravena Tidak Langsung (via Wadah)
Merupakan cara memberikan obat dengan menambahkan atau memasukkan obat ke dalam wadah cairan intravena yang bertujuan untuk meminimalkan eff:k samping dan mempertahankan kadar terapetik dalam darah.
Alat dan Bahan:
1. Spuit dan jarum sesuai dengan ukuran.
2. Obat dalam tempatnya.
3. Wadah cairan (kantong/botol).
4. Kapas alkohol.
Prosedur Kerja:
1. Cuci tangan.
2. Jelaskan prosedur yang akan dilakukan.
3. Periksa identitas pasien dan ambil obat kemudian masukkan ke dalam spuit.
4. Cari tempat pc:nyuntikan obat pada daerah kantong.
5. Lakukan dcsinfeksi dengan kapas alkohol dan stop aliran.
6. Lakukan penyuntikan dengan memasukkan jarum spuiti hingga menembus bagian tengah dan masukkan obat perlahan-lahan ke dalam kantong/wadah c:airan.
7. Setelah selesai tarik spuit dan campur larutan dengan membalikkan kantong cairan dengan perlahan-lahan dari satu ujung ke ujung lain.
8. Periksa kecepatan infus.
9. Cuci tangan.
10. Catat reaksi pembe°rian, tanggal, waktu, dan dosis pemberian obat.
Pemberian Obat Intravena Melalui Selang
Alat dan Bahan:
1. Spuit dan jarum sesuai dengan ukuran.
2. Obat dalam tcmpatnya.
3. Selang intravena.
4. Kapas alkohol.
Prosedur Kerja:
1. Cuci tangan.
2. Jelaskan prosedur yang akan dilakukan.
3. Periksa identitas pasien dan ambil obat kemudian masukkan ke dalam spuit.
4. Cari tempat penyuntikan obat pada dacrah selang intra vena.
5. Lakukan desinfeksi dengan kapas alkohol dan stop aliran.
6. Lakukan penyuntikan dengan memas.ukkan jarum spuit hingga menembus bagian tengah dan masukkan obat perlahan-lahan ke dalam sdang intra vena.
7. Setelah selesai tarik spuit.
8. Periksa kecepatan infus dan obsc:rvasi reaksi obat.
9. Cuci tangan.
10. Catat obat yang telah diberikan dan dosisnya.
Gambar B.6 Pemberian Obat Melalui Selang Intravena
Pemberian Obat per Intramuskular
Merupakan cara memasukkan obat ke dalam jaringan otot. Lokasi penyuntikan dapat pada daerah paha (vastus lateralis), ventrogluteal (dengan posisi berbaring), dorsogluteal (posisi tengkurap), atau lengan atas (deltoid). Tujuannya agar absorpsi obat lebih cepat.
Alat dan Bahan:
1. Daftar buku obat/catatan, jadual pemberian obat.
2. Obat dalam tempatnya.
3. Spuit sesuai dengan ukuran, jarum sesuai dengan ukuran: dewasa panjang 2,5-3,75 cm, anak panjang 1,25-2,5 cm.
4. Kapas alkohol dalam tempatnya.
5. Cairan pelarut.
6. Bak injeksi.
7. Bengkok.
Prosedur Kerja:
1. Cuci tangan.
2. Jelaskan prosedur yang akan dilakukan.
3. Ambil obat kemudian masukkan kedalam spuit sesuai dengan dosis setelah itu letakkan pada bak injeksi.
4. Periksa tempat yang akan dilakukan penyuntikan (lihat lokasi penyuntikan).
5. Desinfeksi dengan kapas alkohol pada tempat yang akan dilakukan penyuntikan.
6. Lakukan Penyuntikan:
a. Pada daerah paha (vastus lateralis) dengan cara anjurkan pasien untuk berbaring telentang dengan lutut sedikit fieksi.
b. Pada ventrogluteal dengan cara anjurkan pasien untuk miring, tengkurap atau telentang dengan lutut dan pinggul pada sisi yang akan dilakukan penyuntikan dalam keadaan fieksi.
c. Pada daerah dorsogluteal dengan cara anjurkan pasien untuk tengkurap dengan lutut di putar ke arah dalam atau miring dengan lutut bagian atas dan pinggul fieksi dan diletakkan di depan tiungkai bawah.
d. Pada daerah deltoid (lengan atas) dengan cara anjurkan pasien untuk duduk atau bcrbaring mendatar lengan atas fieksi.
7. Lakukan penusukan dengan posisi jarum tegak lurus.
8. Setelah jarum masuk lakukan aspirasi spuit bila tidak ada darah semprotkan obat secara perlahan-lahan hingga habis.
9. Setelah selesai ambil spuit dengan menarik spuit dan tekan daerah penyuntikan dengan kapas alkohol, kemudian spuit yang telah digunakan letakkan pada bengkok.
10. Catat reaksi pemberian, jumlah dosis, dan waktu pemberian.
11. Cuci tangan.
Pemberian Obat via Anus/Rektum
Merupakan cara memberikan obat dengan memasukkan obat melalui anus atau rektum, dengan tujuan memberikan efek lokal dan sistemik. Tindakan pengobatan ini disebut pemberian obat suppositoria yang bertujuan untuk mendapatkan efek terapi obat, menjadikan lunak pada daerah feses dan merangsang buang air besar.
Contoh pemberian obat yang memiliki efek lokal seperti obat dulcolac supositoria yang berfungsi secara lokal untuk meningkatkan defekasi dan contoh efek sistemik pada obat aminofilin suppositoria dengan berfungsi mendilatasi bronkus. Pemberian obat supositoria ini diberikan tepat pada dnding rektal yang melewati sfingter ani interna. Kontra indikasi pada pasien yang mengalami pembedahan rektal.
Alat dan Bahan:
1. Obat suppositoria dalam tempatnya.
2. Sarung tangan.
3. Kain kasa.
4. Vaselin/pelicin/pelumas.
5. Kertas tisu.
Prosedur Kerja:
1. Cuci tangan.
2. Jelaskan prosedur yang akan dilakukan.
3. Gunakan sarung tangan.
4. Buka pembungkus obat dan pegang dengan kain kasa.
5. Oleskan ujung pada obat suppositoria dengan pelicin.
6. Regangkan glutea dengan tangan kiri, kemudian masukkan suppositoria dengan perlahan melalui anus, sfingter anal interna dan mengenai dinding rektal kurang lebih 10 cm pada orang dewasa, 5 cm pada bayi atau anak.
7. etelah selesai tarik jari tangan dan bersihkan daerah sekitar anal dengan tisu.
8. Anjurkan pasien untuk tetap berbaring telentang atau miring selama kurang lebih 5 menit.
9. Setelah selesai lepaskan sarung tangan ke dalam bengkok.
10. Cuci tangan.
11. Catat obat, jumlah dosis, dan cara pemberian.
Pemberian Obat per Vagina
Merupakan cara memberikan obat dengan memasukkan obat melalui vagina, yang bertujuan untuk mendapatkan efek terapi obat dan mengobati saluran vagina atau serviks. Obat ini tersedia dalam bentuk krim dan suppositoria yang digunakan untuk mengobati infeksi lokal.
Alat dan Bahan:
1. Obat dalam tempatnya.
2. Sarung tangan.
3. Kain kasa.
4. Kertas tisu.
5. Kapas sublimat dalam tempatnya.
6. Pengalas.
7. Korentang dalam tempatnya.
Prosedur Kerja:
1. Cuci tangan.
2. Jelaskan prosedur yang akan dilakukan.
3. Gunakan sarung tangan.
4. Buka pembungkus obat dan pegang dengan kain kasa.
5. Bersihkan sekitar alat kelamin dengan kapas sublimat.
6. Anjurkan pasien tidur dalam posisi dorsal recumbert.
7. Apabila jenis obat suppositoria maka buka pembungkus dan berikan pelumas pada obat.
8. Regangkan labia minora dengan tangan kiri dan masukkan obat sepanjang dinding kanal vaginal posterior sampai 7,5-10 cm.
9. Setelah obat masuk, bersihkan daerah sekitar orifisium dan labia dengan tisu.
10. Anjurkan untuk tetap dalam posisi kurang lebih 10 menit agar obat bereaksi.
11. Cuci tangan.
12. Catat jumlah, dosis, waktu, dan cara pemberian.
Catatan: apabila menggunakan obat jenis krim, isi aplikator krim atau ikuti petunjuk krim yang tertera pada kemasan, renggangkan lipatan labia dan masukkan aplikator kurang lebih 7,5 cm dan dorong penarik aplikator untuk mengeluarkan obat dan lanjutkan sesuai langkah nomor 8,9,10,11.
Pemberian Obat pada Kulit
Merupakan cara memberikan obat pada kulit dengan mengoleskan bertujuan mempertahankan hidrasi, melindungi permukaan kulit, mengurangi iritasi kulit, atau mengatasi infeksi. Pemberian obat kulit dapat bermacam-macam seperti krim, losion, aerosol, dan sprei.
Alat dan Bahan:
1. Obat dalam tempatnya (seperti losion, krim,aerosol, sprei).
2. Pinset anatomis.
3. Kain kasa.
4. Kertas tisu.
5. Balutan.
6. Pengalas.
7. Air sabun, air hangat.
8. Sarung tangan.
Prosedur Kerja:
1. Cuci tangan.
2. Jelaskan prosedur yang akan dilakukan.
3. Pasang pengalas di bawah daerah yang akan dilakukan tindakan.
4. Gunakan sarung tangan.
5. Bersihkan daerah yang akan di beri obat dengan air hangat (apabila terdapat kulit mengeras) dan gunakan pinset anatomis.
6. Berikan obat sesuai dengan indikasi dan cara pemakaian seperti mengoleskan, mengompres.
7. Kalau perlu tutup dengan kain kasa atau balutan pada daerah diobati.
8. Cuci tangan.
Pemberian Obat pada Mata
Cara memberikan obat pada mata dengan tetes mata atau salep mata obat tetes mata digunakan untuk persiapan pemeriksaan struktur internal mata dengan cara mendilatasi pupil, untuk pengukuran refraksi lensa dengan cara melemahkan otot lensa, kemudian juga dapat digunakan untuk menghilangkan iritasi mata.
Alat dan Bahan:
1. Obat dalam tempatnya dengan penetes steril atau berupa salep.
2. Pipet.
3. Pinset anatomi dalam tempatnya.
4. Korentang dalam tempatnya.
5. Plestier.
6. Kain kasa.
7. Kertas tisu.
8. Balutan.
9. Sarung tangan.
10. Air hangat/kapas pelembab.
Prosedur Kerja:
1. Cuci tangan.
2. Jelaskan prosedur yang akan dilakukan.
3. Atur posisi pasien dengan kepala menengadah dengan posisi perawat di samping kanan.
4. Gunakan sarung tangan.
5. Bersihkan daerah kelopak dan bulu mata dengan kapas lembab dari sudut mata ke arah hidung, apabila sangat kotor basuh dengan air hangat.
6. Buka mata dengan menekan perlahan-lahan bagian bawah dengan ibu jari, jari telunjuk di atas tulang orbita.
7. Teteskan obat mata di atas sakus konjungtiva. Setelah tetesan selesai sesuai dengan dosis, anjurkan pasien untuk menutup mata dengan perlahan-lahan, apabila menggunakan obat tetes mata.
8. Apabila obat mata jenis salep pegang aplikator salep di atas pinggir kelopak mata kemudian pencet tube sehingga obat keluar dan berikan obat pada kelopak mata bawah. Setelah selesai, anjurkan pasien untuk melihat ke bawah, secara bergantian dan berikan obat pada kelopak mata bagian atas dan biarkan pasien untuk memejamkan mata dan menggerakkan kelopak mata.
9. Tutup mata dengan kasa bila perlu.
10. Cuci tangan.
11. Catat obat, jumlah, waktu, dan tempat pemberian.
Pemberian Obat pada Telinga
Cara memberikan obat pada telinga dengan tetes telinga atau salep. Obat tetes telinga ini pada umumnya diberikan pada gangguan infeksi telinga khususnya pada telinga tengah (otitis media), dapat berupa obat antibiotik.
Alat dan Bahan:
1. Obat dalam tempatnya.
2. Penetes.
3. Spekulum telinga.
4. Pinset anatomi dalam tempatnya.
5. Korentang dalam tempatnya.
6. Plester.
7. Kain kasa.
8. Kertas tisu.
9. Balutan.
Prosedur Kerja:
1. Cuci tangan.
2. Jelaskan prosedur yang akan dilakukan.
3. Atur posisi pasien dengan kepala miring ke kanan atau ke kiri sesuai dengan daerah yang akan diobati, usahakan agar lubang telinga pasien ke atas.
4. Luruskan lubang telinga dengan menarik daun telinga ke atas/ke belakang (pada orang dewasa), ke bawah pada anak.
5. Apabila obat berupa tetes, maka teteskan obat pada dinding mencegah terhalang oleh gelembung udara dengan jumlah dengan dosis.
6. Apabila berupa salep maka ambil kapas lidi dan oleskan masukkan atau oleskan pada liang telinga.
7. Pertahankan posisi kepala kurang lebih 2-3 menit.
8. Tutup telinga dengan pembalut dan plester kalau perlu.
9. uci tangan.
10. Catat jumlah, tanggal, dan dosis pemberian.
Pemberian Obat pada Hidung
Cara memberikan obat pada hidung dengan tetes hidung yang dapat dilakukan ada seseorang dengan keradangan hidung (rhinitis) atau nasofaring.
Alat dan Bahan:
1. Obat dalam tempatnya.
2. Pipet.
3. Spekulum hidung.
4. Pinset anatomi dalam tempatnya.
5. Korentang dalam tempatnya.
6. Plester.
7. Kain kasa.
8. Kertas tisu.
9. Balutan .
Prosedur Kerja:
1. Cuci tangan.
2. Jelaskan prosedur yang akan dilakukan.
3. Atur posisi pasien dengan cara:
a. Duduk di kursi dengan kepala menengadah ke belakang.
b. Berbaring dengan kepala ekstensi pada tepi tempat tidur.
c. Berbaring dengan bantal di bawah. bahu dan kcpala belakang.
4. Berikan tetesan obat pada tiap lubang hidung (sesuai dengan Pertahankan posisi kepala tetap tengadah ke belakang selama
5. Cuci tangan.
6. Catat, c:ara, tanggal, dan dosis pemberian obat.
Jumat, 14 Mei 2010
chikungunya
Suatu hari pada saat kami bangun pagi, saya merasakan seluruh tulang dan sendi-sendi terasa sakit dan ngilu seluruhnya. Khususnya daerah di sekitar pergelangan tangan dan pergelangan kaki. Dengan tertatih tatih saya tetap mencoba untuk bangun dan pergi ke kamar mandi, karena suara adzan telah berkumandang dari beberapa masjid di sekitar rumah.
Pagi itu dengan menahan sakit saya masih berusaha untuk pergi ke kantor, walaupun akhirnya saya tidak tahan dan pulang kerumah sebelum waktunya untuk segera beristirahat.
Sore harinya justru terjadi peningkatan suhu badan dan sedikit sakit kepala dan ini berlanjut pada besok paginya. Saya coba minum obat turun panas dan vitamin neurotropik sambil berusaha untuk mencari tahu penyakit apa yang sedang aya alami.
Waktu itu dalam pikiranku mungkin ini flu tulang atau demam chikungunya, ternyata dari informasi beberapa teman dan dari internet semakin menambah keyakinanku bahwa penyakit yang saya alami adalah demam chikungunya.
Sesuai dengan catatan dan informasi yang saya peroleh saya coba menggunakan obat anti inflamasi non steroid (AINS) dan vitamin neurotropik serta di tambah dengan makanan bergizi dan buah-buahan segar.
Alhamdulillah saat ini sudah dapat beraktivitas seperti semula
Pagi itu dengan menahan sakit saya masih berusaha untuk pergi ke kantor, walaupun akhirnya saya tidak tahan dan pulang kerumah sebelum waktunya untuk segera beristirahat.
Sore harinya justru terjadi peningkatan suhu badan dan sedikit sakit kepala dan ini berlanjut pada besok paginya. Saya coba minum obat turun panas dan vitamin neurotropik sambil berusaha untuk mencari tahu penyakit apa yang sedang aya alami.
Waktu itu dalam pikiranku mungkin ini flu tulang atau demam chikungunya, ternyata dari informasi beberapa teman dan dari internet semakin menambah keyakinanku bahwa penyakit yang saya alami adalah demam chikungunya.
Sesuai dengan catatan dan informasi yang saya peroleh saya coba menggunakan obat anti inflamasi non steroid (AINS) dan vitamin neurotropik serta di tambah dengan makanan bergizi dan buah-buahan segar.
Alhamdulillah saat ini sudah dapat beraktivitas seperti semula
Minggu, 02 Mei 2010
Antibiotika
ANTIBIOTIKA
Obat yang digunakan untuk membunuh bakteri penyebab infeksi, bekerja dengan cara membunuh (bekterisidal) atau menghambat pertumbuhan bakteri (bakteriostatik). Tidak dapat digunakan untuk penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus, jamur atau mikroba lain selain bakteri.
Terdapat bermacam-macam bentuk sediaan antibiotika baik sebagai obat dalam (obat yang penggunaannya melalui saluran perncernaan/peroral) ataupun obat luar baik sistemik misalnya injeksi, ataupun yang lokal seperti tetes mata, tetes telinga, salep dan sebagainya.
Antibiotika harus digunakan dengan bijaksana, agar tujuan pengobatan dapat tercapai, yaitu harus tepat indikasi, tepat pasien, tepat obat, tepat dosis (besarnya dosis, cara pemberian, waktu dan lama pemberian) dan waspada terhadap efek samping.
Penggunaan yang tidak bijak akan mengakibatkan tidak tercapainya tujuan pengobatan (pasien tidak sembuh), timbulnya efek samping/toksik, meningkatnya biaya perawatan/pengobatan, timbulnya resistensi/kekebalan kuman terhadap antibiotika.
Ingat jangan menggunakan antibiotika secara sembarangan
Mintalah informasi yang lengkap sebelum menggunakan obat kepada Apoteker terdekat, baik yang sedang praktek di Apotek, di Rumah Sakit, Puskesmas ataupun di masyarakat.
Jadilah KELUARGA SADAR OBAT
Tularkan kepada semua orang/masyarakat yang menggunakan obat dapat menggunakan obat dengan benar dan terhindar dari penyalahgunaan dan penggunasalahan obat
Apotekr siap membantu anda
Obat yang digunakan untuk membunuh bakteri penyebab infeksi, bekerja dengan cara membunuh (bekterisidal) atau menghambat pertumbuhan bakteri (bakteriostatik). Tidak dapat digunakan untuk penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus, jamur atau mikroba lain selain bakteri.
Terdapat bermacam-macam bentuk sediaan antibiotika baik sebagai obat dalam (obat yang penggunaannya melalui saluran perncernaan/peroral) ataupun obat luar baik sistemik misalnya injeksi, ataupun yang lokal seperti tetes mata, tetes telinga, salep dan sebagainya.
Antibiotika harus digunakan dengan bijaksana, agar tujuan pengobatan dapat tercapai, yaitu harus tepat indikasi, tepat pasien, tepat obat, tepat dosis (besarnya dosis, cara pemberian, waktu dan lama pemberian) dan waspada terhadap efek samping.
Penggunaan yang tidak bijak akan mengakibatkan tidak tercapainya tujuan pengobatan (pasien tidak sembuh), timbulnya efek samping/toksik, meningkatnya biaya perawatan/pengobatan, timbulnya resistensi/kekebalan kuman terhadap antibiotika.
Ingat jangan menggunakan antibiotika secara sembarangan
Mintalah informasi yang lengkap sebelum menggunakan obat kepada Apoteker terdekat, baik yang sedang praktek di Apotek, di Rumah Sakit, Puskesmas ataupun di masyarakat.
Jadilah KELUARGA SADAR OBAT
Tularkan kepada semua orang/masyarakat yang menggunakan obat dapat menggunakan obat dengan benar dan terhindar dari penyalahgunaan dan penggunasalahan obat
Apotekr siap membantu anda
Langganan:
Postingan (Atom)